-->

Pengertian Maf'ul Bih (مفعول به) Dalam Ilmu Nahwu

Salah satu pembahsan dari mansubat al-asmai (isim-isim yang dinashabkan) ialah  maf’ul bih. agar  memahaminya lebih mudah, yang dimaksud dengan maf’ul bih ini ialah  “objek” dalam bahasa indonesia. Jadi, objek dalam bahasa indonesia tersebut  sama halnya dengan maf’ul bihi dalam bahasa arab.

Baca Juga: Maf'ul Mutlaq, Maf'ul Liajlih, Maf'ul Ma'ah, dan Maf'ul Fiih.

Pengertian Maf'ul Bih

Adapun definisi  maf’ul bih dalam ilmu nahwu ialah  :

isim manshub (yang dibaca nashob) yang menjadi sasaran tindakan  (objek).

Maka, terperinci sekali, yang dimaksud maf’ul bih berdasarkan arti istilah ialah  isim manshub dimana posisinya menjadi sasaran tindakan  si pelaku.

Contoh :

قَرَأْتُ كِتَابًا = Aku sudah  membaca Buku

Dalam misal  di atas, yang menjadi sasarn perbuatannya (memukul) ialah  kata “kitaaban”, maka kata tersebut  menjadi maf’ul bih.

Contoh lainnya :

اَكَلْتُ الطَعَامَ = Aku sudah  memakan makanan.

Yang menjadi sasaran perbuatannya (memakan) ialah  makanan, maka kata tersebut  menjadi maf’ul bih.

Dengan dua misal  di atas sudah paling  terperinci sekali untuk mengetahui  pembahasan mengenai  maful bih dalam ilmu nahwu.

Pembagian Maf’ul Bih

Dalam ulasan  ihwal maful bih , maka maf’ul bih terbagi atas dua bab yakni  maf’ul bihi isim dzahir (nampak) dan isim dhamir (kata ganti). Maf’ul bih isim dzahir ialah  maf’ul bih yang terdiri atas isim dzahir (isim yang nampak) misalnya laksana  yang dua tadi di atas, objeknya berupa kata yang nampak dan bukan kata ganti, sementara  yang dimaksud dengan maf’ul bih isim dhamir (kata ganti) ialah  maf’ul bih yang terdiri dari isim dhamir misal  :

ضَرَبَنِى = Dia (laki-laki) sudah  memukulku.

Lafadz ضَرَبَ ialah  fi’il madhi, sementara  fa’ilnya ialah  dhamir mustatir (disembunyikan) takdirnya هُوَ, huruf   nun-nya ialah  lil wiqaayah, sementara  huruf   ya-nya ialah  ya mutakalim wahdah dimana kedudukannya menjadi maf’ul bih.

ضَرَبَكَ = Dia (laki-laki) sudah  memukulmu (laki-laki)

Lafadz ضَرَبَ ialah  fi’il madhi, fa’ilnya mustatir andai  ditakdirkan menjadi هُوَ, dan huruf   ka-nya menjadi maf’ul bih.

Demikian ulasan  ihwal maful bih dalam ilmu nahwu bahasa arab. Semoga bermanfaat. :)
LihatTutupKomentar